Akmal Marhali: Juara-Degradasi di Liga Sepakbola Nasional Sudah Ketahuan Sebelum Kompetisi Dimulai

Pengamat Sepakbola, Akmal Marhali menyebut kolam kompetisi sepakbola Indonesia sangat kotor dikarenakan praktik praktik mafia bola seperti pengaturan skor dan pengaturan pertandingan terus berulang. "Kolam kompetisi kita ini sangat kotor sekali. Sekarang yang mau juara, degradasi, bahkan sudah diketahui sebelum kompetisi dimulai. Ini adanya match setting, match fixing, ini problem besar sepakbola Indonesia," kata Akmal. Kondisi ini sudah terjadi sejak Liga Indonesia dimulai pada tahun 1993 1994.

Saat itu, praktik pengaturan pertandingan (match setting) telah terjadi. "Praktik ini adalah menentukan juara sebelum kompetisi dimulai," kata Akmal. Dampak dari match setting di kolam kompetisi nasional, kata Akmal membuat para pengusaha pengusaha besar yang mendukung industri sepakbola Indonesia justru gulung tikar.

"Dulu ada Sigit Soeharto, anak presiden yang megang klub Arseto Solo. Kemudian ada pengusaha pengusaha besar seperti Pak Jusuf Kalla yang dulu pegang Makassar Utama. Kemudian juga ada Pardede, dan lain lain," kata Akmal. "Yang terjadi mereka semua malah angkat tangan, menyerah kemudian gulung tikar, karena buruknya sistem kompetisi yang ada di kita. Kenapa? Karena dari awal kompetisi semua sudah diatur siapa yang jadi juara dan klub mana yang bakal degradasi," ujar dia. Belakangan praktik pengaturan skor kembali terjadi di kompetisi sepakbola Indonesia, tepatnya di Liga 2.

Lima pemain klub Perserang Serang, termasuk pelatihnya, dipecat karena diduga terlibat praktik pengaturan skor. Hal serupa baru saja terjadi, kali ini menyasar klub Liga 3 Asprov Jawa Timur, Gresik Putra (Gestra) Parane. Dua pemain dan satu kit man Gestra Parane dipecat lantaran diduga terlibat praktik ini.

Praktik praktik mafia bola seperti ini kembali berulang saat anak Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kaesang Pangarep, kemudian dua artis besar seperti Raffi Ahmad dan Atta Halilintar mendukung industri sepakbola Indonesia. Bagi Akmal, apa yang terjadi di kompetisi sepakbola tanah air sekarang ini bagaikan Dejavu. "Ini yang kemudian sekarang terulang lagi. Dejavu kalau menurut saya di sepakbola kita. Karena itu penting buat kita atasi masalah fundamental ini," kata Akmal.

"Kalau kita mau berprestasi maka kolamnya (kompetisi) harus dibenahi. Selama kompetisi tidak sehat, jangan berharap kita punya timnas yang kuat. Itu problem yang harus bersama sama kita perbaiki," kata dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.